Beranda | Artikel
Memilihkan Guru Terbaik untuk Anak
13 jam lalu

Memenuhi Hak Belajar Anak dan Memberikan Motivasi ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Dzulqa’dah 1447 H / 4 Mei 2026 M.

Kajian Tentang Memenuhi Hak Belajar Anak dan Memberikan Motivasi

Dalam sejarah kehidupan para ulama, biografi mereka sering mencantumkan nama-nama guru dan murid. Menariknya, salah satu guru yang disebutkan sering kali adalah ayah mereka sendiri. Banyak ulama besar lahir di lingkungan keluarga ulama, sehingga ayah menjadi madrasah pertama bagi mereka. Meski demikian, para ulama tersebut tidak hanya berguru kepada ayahnya. Setelah menimba ilmu di rumah, mereka akan berkelana untuk belajar dari ulama-ulama lainnya. Belum ditemukan biografi ulama yang hanya berguru kepada ayahnya saja. Kebiasaan berguru kepada pihak lain merupakan hal umum di kalangan para pendahulu yang saleh.

Pengaruh Guru terhadap Karakter Anak

Dalam perjalanan hidup anak, mereka pasti akan berguru kepada orang lain selain ayah dan ibunya. Salah satu tugas besar orang tua adalah memastikan anak mendapatkan guru yang berkualitas, bukan sekadar memilih guru secara asal. Orang tua hendaknya benar-benar selektif dalam memilih sekolah maupun pengajar, tidak hanya mempertimbangkan faktor biaya atau kemudahan akses.

Sangat jarang ditemukan orang tua yang melakukan investigasi atau penelitian mendalam mengenai latar belakang para guru sebelum memasukkan anak ke sebuah lembaga pendidikan. Padahal, guru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap muridnya. Pengaruh tersebut mencakup pola pikir, sikap, hingga tutur kata. 

Anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekolahnya, baik dalam pelajaran umum maupun agama. Jika seorang guru memiliki tutur kata yang kasar atau sering mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, anak tersebut sangat mungkin membawa kosakata yang sama ke rumah. Perilaku seorang guru memiliki dampak yang sangat nyata bagi muridnya. Sebagai contoh, jika seorang guru merokok, terdapat kemungkinan besar anak didik akan mengikuti kebiasaan tersebut. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bersikap asal dalam memilih guru, baik untuk diri sendiri maupun ketika memilihkan guru bagi anak-anak.

Secara manusiawi, orang dewasa memiliki akal yang lebih sempurna dibandingkan anak-anak. Hal inilah yang menjelaskan mengapa perilaku anak-anak di masjid, seperti berlari-lari, dianggap wajar karena akal mereka yang belum sempurna, meskipun tetap perlu dibiasakan untuk menjaga kesakralan rumah ibadah. Apabila orang dewasa yang akalnya sudah sempurna saja masih sangat mungkin terpengaruh oleh pemikiran atau kebiasaan gurunya, maka anak-anak yang akalnya belum sempurna jauh lebih rentan untuk terpengaruh. Hal ini menjadi peringatan agar orang tua tidak salah dalam memilihkan guru, baik itu guru TPQ, guru mengaji, guru sekolah, maupun guru di pondok pesantren.

Kriteria Utama dalam Memilih Guru

Syaikh Shalih Al-Ushaimi hafidzahullah dalam kitab beliau, خلاصة تعظيم العلم, menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek yang menjadi kriteria untuk mengetahui apakah seorang guru layak diambil ilmunya.

1. Menguasai materi yang akan disampaikan

Aspek yang pertama adalah mumpuni dalam ilmu yang diajarkan. Seseorang harus menguasai materi yang akan disampaikan. Sebagai contoh, jika ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an (tahsin), maka harus belajar kepada orang yang bacaannya fasih dan benar. Demikian pula jika ingin mempelajari aqidah atau fikih, maka harus merujuk kepada ahli di bidang masing-masing. 

Untuk mengetahui keahlian seorang guru, orang tua dapat meninjau latar belakang keilmuannya atau riwayat hidupnya (curriculum vitae). Hal ini mencakup informasi mengenai tempat belajar, sosok guru yang pernah membimbingnya, serta materi apa saja yang telah dipelajari.

Dalam konteks guru agama, perlu diketahui riwayat pendidikannya di pondok pesantren, apakah ia menyelesaikannya dengan baik atau justru memiliki masalah dalam masa belajarnya. Mencari tahu latar belakang seseorang yang akan diambil ilmunya bukanlah sebuah aib, melainkan suatu bentuk kehati-hatian. Menanyakan riwayat pendidikan seorang ustadz atau guru adalah hal yang diperbolehkan selama dilakukan dengan cara yang sopan. 

Menanyakan riwayat pendidikan seorang guru atau ustadz bertujuan untuk memastikan bahwa ilmu yang didapatkan memiliki mata rantai yang jelas. Hal ini dalam tradisi keilmuan Islam disebut sebagai sanad, yaitu mata rantai pewarisan ilmu dari guru ke guru hingga bersambung ke sumber aslinya. Kejelasan mata rantai keilmuan ini telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ وَيُسْمَعُ مِمَّنْ يَسْمَعُ مِنْكُمْ

“Kalian mendengar (ilmu) dariku, kemudian orang lain mendengar darimu, dan orang lain lagi mendengar dari orang yang mendengar darimu.” (HR. Abu Dawud)

Berdasarkan hadits tersebut, para sahabat berguru kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para tabiin berguru kepada para sahabat, dan para tabiut tabiin berguru kepada para tabiin. Prinsip ini menekankan bahwa ilmu agama harus memiliki landasan yang jelas, bukan sekadar pendapat pribadi. Guru yang baik akan menyebutkan rujukan Al-Qur’an beserta surat dan ayatnya, serta menyebutkan perawi hadits beserta derajat kesahihannya. Hal ini memudahkan murid untuk melakukan pengecekan ulang demi meraih keyakinan dalam beragama.

Guru yang memiliki kedalaman ilmu biasanya bersikap bijaksana dalam menghadapi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagai contoh, dalam masalah qunut subuh, guru yang mumpuni tidak akan bersikap kaku atau ekstrem dengan menyatakan bahwa shalat pihak yang berbeda pendapat tidak sah. Guru yang bijak akan menjelaskan bahwa setiap pihak memiliki argumen dan dalil yang kuat.

Apabila seorang hamba meyakini bahwa dalil qunut itu kuat, ia dipersilakan melaksanakannya. Sebaliknya, jika meyakini dalilnya lemah, ia diperbolehkan untuk tidak melakukannya. Namun, dalam konteks berjamaah, guru yang berilmu akan mengajarkan untuk tetap mengikuti imam demi menjaga persatuan. Jika imam membaca qunut, makmum hendaknya ikut mengamini karena menghargai ijtihad imam yang memiliki landasan dalil sendiri. Sikap bijaksana ini lahir dari luasnya wawasan keilmuan, berbeda dengan pengajar yang kurang mendalam ilmunya sehingga cenderung memicu polemik pada masalah yang bukan merupakan prinsip dasar agama.

2. Kecakapan dalam Mengajar

Kriteria kedua bagi guru yang baik adalah cakap dalam mengajar. Cakap dalam konteks ini bukan berarti penampilan fisik yang tampan, melainkan kemampuan dalam menyampaikan materi pelajaran dengan sistematis dan mudah dimengerti. Seorang guru yang kompeten mampu menyederhanakan hal-hal yang rumit sehingga murid-muridnya dapat memahami ilmu yang disampaikan dengan baik dan benar. Tidak setiap orang yang memiliki keluasan ilmu mampu menjelaskan ilmu tersebut dengan baik. Seseorang yang telah mencapai jenjang profesor sekalipun belum tentu memiliki kemampuan untuk mengajar anak tingkat sekolah dasar. Keluasan ilmu semata tidak menjamin seorang guru dapat memahamkan muridnya. Oleh karena itu, kriteria kedua bagi guru yang baik adalah kecakapan dalam mengajar.

Guru yang cakap memahami cara mendidik anak-anak dengan menyesuaikan bahasa sesuai tingkat pemahaman mereka. Pengajar tidak semestinya menggunakan istilah-istilah akademik yang rumit saat berhadapan dengan anak kecil. Selain itu, guru yang baik harus peka terhadap kondisi muridnya. Saat melihat murid mulai mengantuk, guru dapat menerapkan metode yang interaktif, seperti meminta murid berdiri sejenak atau memberikan pertanyaan untuk mengembalikan fokus mereka.

Guru harus menyadari bahwa tingkat kecerdasan setiap murid berbeda-beda. Terdapat anak yang mampu menghafal Al-Qur’an hanya dengan lima kali membaca, namun ada pula yang memerlukan pengulangan hingga lima puluh kali. Guru yang bijak tidak akan menyamakan perlakuan antara murid yang cerdas dengan yang kurang cerdas, melainkan memberikan perhatian sesuai kebutuhan masing-masing.

Selain itu, guru yang cakap mampu memilah prioritas materi. Ilmu-ilmu dasar yang mendesak, seperti akidah dan tata cara salat yang benar, harus didahulukan. Sementara itu, materi yang lebih rumit dapat diajarkan di kemudian hari atau dikhususkan bagi santri senior yang telah memiliki kesiapan pemahaman. 

3. Guru Sebagai Teladan Utama

Kriteria ketiga yang sangat krusial adalah kelayakan guru menjadi teladan. Guru merupakan sosok yang dipercaya dan diikuti perilakunya. Terdapat pepatah yang menyatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari, yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh perilaku guru terhadap murid. Jika seorang guru memberikan contoh yang buruk, murid berpotensi melakukan keburukan yang lebih parah.

Dalam agama Islam, ilmu bukan hanya untuk dipahami secara teori, melainkan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan guru dalam mempraktikkan ilmu merupakan sarana pendidikan yang paling efektif.

Penerapan teori ke dalam praktik nyata inilah yang membuat pendidikan pada masa terdahulu memiliki pengaruh yang sangat mendalam bagi pembentukan karakter anak didik. Guru pada masa dahulu tetap mampu meninggalkan kesan mendalam di hati murid-muridnya meskipun banyak di antara mereka yang tidak memiliki gelar akademik tinggi, seperti hanya lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Kualitas seorang pengajar tidak hanya ditentukan oleh gelar S1 atau pendidikan formal, tetapi oleh integritas dan pengaruh sikapnya saat mengajar. Guru yang berwibawa akan membuat murid-muridnya menyimak dan memperhatikan dengan penuh rasa hormat.

Sebaliknya, pada masa kini, terdapat guru yang secara akademik berpendidikan tinggi, namun perilakunya belum matang atau belum selesai dengan urusan perbaikan diri sendiri. 

Tiga Aspek Utama dalam Memilih Guru Agama

Dalam memilihkan guru agama untuk anak, orang tua harus memperhatikan praktik keseharian pengajar tersebut melalui tiga aspek utama: Akidah, Ibadah, dan Akhlak.

1. Akidah

Aspek akidah berkaitan dengan keyakinan yang diwujudkan dalam keseharian. Orang tua perlu melihat apakah guru tersebut mengarahkan anak untuk hanya bergantung dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika seorang pengajar justru memberikan contoh dengan mencari solusi melalui praktik kesyirikan seperti mendatangi kuburan untuk meminta sesuatu atau memasang sesajen, maka ia tidak layak dijadikan teladan.

2. Ibadah

Kualitas ibadah seorang guru, terutama salat lima waktu, menjadi tolok ukur penting. Guru agama yang konsisten akan menjaga salatnya di masjid dan tidak pernah meninggalkan salat Jumat. Alasan-alasan yang tidak berdasar syariat, seperti klaim telah mencapai tingkatan tertentu sehingga salatnya berpindah secara gaib ke tempat lain, merupakan tanda bahwa guru tersebut tidak layak diteladani dalam ibadahnya. 

3. Akhlak

Aspek ketiga adalah akhlak, yang mencakup tutur kata dan perilaku sosial. Seorang pengajar agama tidak sepantasnya mengajar sambil merokok atau mengeluarkan kata-kata umpatan dan makian yang kasar. Kata-kata kotor tidak pernah ditemukan dalam lisan para ulama besar seperti Imam Syafi’i atau Imam Bukhari. Selain itu, lihatlah bagaimana ia bersikap kepada orang tua, istri, anak, tetangga, maupun para santrinya. Guru yang baik adalah sosok yang mampu mempraktikkan ilmu yang dimilikinya dalam hubungan antarmausia. Prinsip keteladanan ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan sebaik-baik teladan bagi manusia.

Orang tua hendaknya tidak bersikap sembarangan dalam mencari guru bagi anak-anak. Diperlukan sikap selektif agar anak mendapatkan bimbingan yang benar. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, terdapat tiga ukuran utama yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih pengajar:

  1. Mumpuni dalam ilmu
  2. Cakap dalam mengajar
  3. Layak menjadi teladan

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Memilihkan Guru Terbaik untuk Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56219-memilihkan-guru-terbaik-untuk-anak/